Ini seharusnya menjadi pukulan telak bagi kita, muda dan modern serta melek teknologi untuk memberikan informasi tentang desa kita, sehingga desa Heuleut bisa lebih di kenal oleh semua orang.
Diberdayakan oleh Blogger.
Subscribe Here
About Us
editor
Label
Categories
Flickr Feed
Home columns2
Connect with us
Latest Post
Coba Lihat Heuleut Kadipaten di WIKIPEDIA!
Written By Sync Ali on Selasa, 22 Desember 2015 | 18.21
Ini seharusnya menjadi pukulan telak bagi kita, muda dan modern serta melek teknologi untuk memberikan informasi tentang desa kita, sehingga desa Heuleut bisa lebih di kenal oleh semua orang.
Website Kec. Kadipaten GRATISAN
Majalengka 22 Desember 2015, Di era digital seperti sekarang Website adalah sumber informasi yang di butuhkan, namun ketika saya mencari website Kecamatan kadipaten website terlihat tidak ada yang mengurus dan terkesan Gratisan karena menggunakan WEEBLY, Weebly adalah web generator yang memberikan website gratis kepada penggunanya dengan Subdomain Weebly.
Kode Pos Heuleut Kadipaten Majalengka
Alamat Kode Pos Heuleut dan keterangan lokasi lengkap nama desa atau kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten serta Propinsi.
Kode Pos Heuleut
Desa/Kel.: HeuleutKecamatan: Kadipaten
Kota/Kabupaten: Kab. Majalengka
Propinsi: Jawa Barat.
Kode Pos: 45452
Anda bisa cari alamat kode pos lainnya dengan menggunakan form pencarian.Kualitas Udara dan Kesehatan Para Pemulung Di TPA Heuleut-Kadipaten, Majalengka
1. Kualitas Udara
Manusia dalam aktivitasnya tidak telepas dari kebutuhan terhadap ruang. Ruang tempat mereka tinggal dalam upaya meningkatkan status dan kualitas hidupnya
yaitu dengan mengolah sumber daya, baik itu sumber daya alam atau pun
sumber daya manusia itu sendiri. Disadari atau tidak dalam proses
pemanfaatan sumber daya itu manusia menghasilkan sampah, dan sampah
tersebut akan penyebabkan pencemaran lingkungan.
Proses akhir dari rangkaian penanganan sampah yang biasa dijumpai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbul di sumber, pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan. TPA merupakan tempat dimana sampah diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya. Karenanya diperlukan penyediaan fasilitas dan perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat dicapai dengan baik.
Tempat
pembuangan akhir sampah (TPA) Heuleut merupakan salah satu tempat
pembuangan akhir sampah yang terdapat di Kecamatan Kadipaten,
Majalengka. Metode pembuangan sampah yang digunakan di TPA heuleut
adalah metode open dumping. Sampah yang sudah diangkut oleh truk
sampah, akan langsung dibuang dengan cara menumpuk sampah di TPA,
sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, di TPA tersebut
juga banyak terdapat tenda-tenda sementara untuk para pemulung yang
bekerja di TPA tersebut. Di tenda tersebut, mereka
meletakkan barang-barang dari hasil pencarian barang bekas, selain itu
mereka beristirahat dan makan siang di tenda tersebut. Di TPA Heuleut
juga kadang terjadi pembakaran. Pembakaran tersebut tidak dilakukan
secara sengaja. Pembakaran terjadi akibat dari puntung rokok yang
dibuang secara sembarangan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Tempat pembuangan akhir sampah dengan sistem open dumping menimbulkan bau telur busuk karena tumpukan sampah mengalami dekomposisi secara alamiah menghasilkan gas H2S, metana dan amoniak. Bau ini dapat menyebar di TPA dan sekitarnya sehingga menurunkan kualitas udara (Soemirat, 2009).
Penguraian sampah sendiri disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme. Pembusukan sampah ini akan menghasilkan gas metana (CH4)
yang bersifat racun bagi tubuh makhluk hidup. Sampah yang tidak dapat
membusuk adalah sampah yang memiliki bahan dasar plastik, logam, gelas
dan karet. Untuk pemusnahannya dapat dilakukan pembakaran. Proses
pembakaran sampah tersebut dapat menghasilkan gas karbon dioksida (CO2)
yang dapat menimbulkan dampak lingkungan. Peningkatan jumlah sampah
disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk, keadaan sosial ekonomi dan
kemajuan teknologi (Nandi, 2005).
Volume Sampah Rumah Tangga Naik 20 Persen
Menurut keterangan Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Lidup Kabupaten Majalengka Ali Alimudin disertai Kepala Bidang Pengelola Persampahan dan Kebersihan, Joyo Suhindra, Kamis (23/7/2015) kenaikan volume sampah tersebut belum termasuk jenis sampah lainnya yang ada di jalan, sampah limbah pabrik serta sampah medis.
“Volume sampah harian normalnya yang setiap hari terfasilitasi petugas kebersihan dan masuk ke tempat pembuangan sampah akhir di Desa Heuleut ada sekitar 160.000 ribu meter kubik. Sejak Lebaran beberapa hari lalu mencapai 190.000 meter kubik naik sekitar 20 persen,” papar Ali.
Karena tingginya volume sampah petugas kebersihan tidak diliburkan, mereka tetap bekerja seperti biasanya terkecuali pada hari raya lebaran. Itupun ada beberapa petugas yang piket terutama membersihkan sejumlah tempat bekas solat Idulfitri seperti halnya di Alun-alun kota Majalengka yang hampir semua jemaah menggunakan alas koran untuk salat.
“Petugas pemungut sampah rumah tangga tidak ada yang libur mereka bekerja seperti biasa, dua kali dalam seminggu mengambil sampah keliling rumah,” ucap Ali.
Menurutnya, kenaika volum sampah ini sebetulnya sudah mulai terjadi pada saat memasuki bulan Ramadan, sebab tingkat konsumtif masyarakat selama ramadhan juga ikut meningkat, walaupun waktu makan berkurang dari 3 kali menjadi hanya 2 kali saja. Volume sampah rumah tangga dan sampah pasar di bulan puasa mulai naik sekitar 5-10 persen dari volume normal harian.
Ali menyebutkan naiknya volume sampah didominasi oleh sampah rumah tangga yang berjenis anorganik seperti bungkus plastik dan semacamnya. Bungkus plastik tersebut biasanya dipakai sebagai bungkus makanan minuman, dan bekas perlengkapan kebutuhan rumah tangga lainya. Sedangkan, untuk sampah organik dari berbagai macam jenisnya cenderung lebih sedikit karena bisa diolah dan hancur dengan sendirinya.
Sampah-sampah yang masuk ke TPA sebagian diolah menjadi kompos sebagian lagi untuk jenis anorganik di kubur.(Tati Purnawati/A-147)***
dikutip dari
Pikiran Rakyat

